Selasa, 12 Juli 2011

PARTUS…….???


110711 22:45:26
Dapat telepon dari teman, katanya kerja di Rumah Sakit nagian SPS (klining SerPiS kali yah…?). Yakin, dai nelpon Cuma buat menghabiskan gratis TM-nya (TM=Telepon Ma’tulili; promo sebuah operator seluler).

Pas nanya sudah makan ato belum, dia jawab;
“Belum, baru pulang. Soalnya harus lembur sampe jam sepuluh. Temanku habis PARTUS, jadi saya yang gantikan…”
Jelas saja otak bodohku gak tau artinya PARTUS…? Kena bunga KAKTUS kali yah…? Pas nanya ternyata PARTUS itu MELAHIRKAN…..

Jadi ternyata, PARTUS itu adalah akronim dari “perut meletus”, artinya temannya itu melahirkan dengan cara operasi cesar, hahaha….

P+ PELAJARAN BUAT HARI INI….
Terkadang dalam berkomunikasi kita tidak memperhatikan latar belakang dan kemampuan berpikir lawan bicara kita dan berbicara dengan istilah atau bahasa komunitas kita…..

Senin, 09 Mei 2011

DON’T JUDGE A BOOK BY ITS COVER …!

Kemarin malam habis dari toko buku (strategi menghabiskan malam Minggu sebagai jomblo sejati), rencananya mau beli buku yang sudah lama saya cari, judulnya “Mencintai Hingga Terluka”  tapi seperti di beberapa toko buku sebelumnya, bukunya habis.......!!! Tak ingi pulang dengan tangan hampa (bahasanya dong, hahaha.....) terpaksa ngambil buku lain yang judulnya menurutku juga menarik. Pas di kasir, ternyata harganya cuma Rp. 5.000 padahal tebalnya mungkin sekitar 150-an halaman. Kasirnya masukin barcode-nya berulang-ulang, gak percaya kalo harganya segitu. Soalnya memang gak ada label harga di bungkus buku tersebut.  Kemudian kasirnya bilang “Adek, tidak tau ka’ harganya ini, cari mi buku lain saja …!”. Sebenarnya mau bilang, “Itu harganya 5.000...?”. Tapi gak yakin juga kalo tulisan setebal itu cuma dihargai 5.000 rupiah walopun berdasarkan data di cover-nya nama penulisnya gak (seandainya taw penulisnya bakalan baca tulisan ini harusnya pake kata “belum”, sapa taw dapat bukunya GRATISSSS…..! ) terkenal dan masih orang sini juga alias produk lokal. Jadi kuruungan niat suciku untuk mengatakannya dan mengambil sebuah buku renungan meskipun sebenarnya gak pernah sate, hanya buat jaim saja, hehehe......


Don’t judge a book by its cover (jangan menghakimi buku karena membawa koper), kata-kata ini dipopulerkan (lagu kaleeee…?) oleh penulis terbesar sepanjang sejarah yang hingga hari ini masih menjadi kontroversi tentang siapa dia sebenarnya. Beberapa orang bilang kalo nama aslinya Edward de Vere, anggota keluarga Kerajaan Inggris terduga homo dan berselingkuh, sehingga untuk membuat kerajaan tidak mendapat malu dan tetap menyalurkan bakat menulis yang kebanyakan terinspirasi dari kisah hidupnya, ia memilih menutupi jati dirinya dan menggunakan nama pena “William Shakespeare”….

Sepertinya kata-kata ini hanya berlaku untuk “sang terduga homo”  buktinya di toko buku, semua buku dibungkus pake plastik. Mau tidak mau, kita harus menilai buku tersebut dari cover-nya.  

Terakhir kali ke Gramedia, ke’nya bulan lalu, saya sempat merobek bungkus plastik sebuah buku juga. Penasaran saja ma penulisnya, Norman Edwin, bukan karena namanya mirip Briptu Norman Cayya-cayya, sang artis dadakan, tapi karena punya beberapakesamaan ma saya; pengagum keindahan alam dan yang paling penting, gak merokok tapi SUKA BICARA KOTOR, hahaha……….

Jadi mikir dan berharap......
Seandainya saja semua penulis homo atau lesbi.......
Seandainya semua penulis hanya menulis untuk kepentingan seni atau ilmu pengetahuan, bukan tujuan komersil apalagi popularitas...
Pasti gak semua buku dibungkus pake plastik, jadi saya gak perlu pake acara rober-robek bungkus buku di Gramedia karena gak maw jadi arwah penasaran. Tulisan-tulisan juga mudah didapat, dibaca, dinikmati bahkan diplagiat sama semua orang….

BTW, kawan2 ada yang punya atw pernah baca buku “Mencintai Hingga Terluka” tidak…....??? Atau, adakah diantara kalian yang homo atau lesbi...? maukah kalian menjadi pasangan homo.... eh, hampir keceplosan,  maksudku maukah kalian menjadi penulis.......???

(Mcz, 090511)


Minggu, 08 Mei 2011

RENAISSANCE

Semua berawal dari pertanyaan orang-orang tentang foto dan namaku. Ada yang bilang tidak bersyukur, tidak percaya diri, pecundang, pengecut dan poling teratas menyebutku MUNAFIK…….!!! Masa inilah yang memulai masa pencerahan. Ibarat berakhirnya The Black Age, masa di mana kejayaan pelita penghasil asap dan upil hitam menuju masa pencerahan dengan adanya Listik Masuk Desa (LMD) di Buntu Limbong.

Masa inilah hasrat suci untuk memasang foto asli terbersit jauh didalam lubuk hatiku yang paling dalam setelah mendapat pencerahan kalo saya diciptakan menurut “gambar dan rupaAllah”….! Gak ada yang namanya “produk gagal”  aku diciptakan dengan keunikan dan karakter tersendiri dan diperlengkapi untuk jadi diriku sendiri…!

Jadi artinya;
“SAYA GAGAH…….!!!”

Masalahnya, baru saya yang sadar dengan kegagahanku, bahkan cermin dan kamera pun belum sadar. Setiap kali difoto hasilnya selalu jelek, padahal kan saya gagah…? Tiap ngaca juga begitu. Selalu saja cerminnya salah memantulkan kegagahanku…. Apa memang semua kamera dan cermin penipu yah…?

Makanya sampe saat ini gak punya foto, kaca pun sering jadi korban…
Soalnya saya bukan orang yang suka menyaksikan apalagi menyimpan kebohongan dan penipuan…….!!!

Semoga suatu hari nanti, semua penduduk mayapada menyadari kegantenganku, wajahku yang rupawan bak putra KERAton ini….
Yah, semoga….




“Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sebagai cermin kasih-Nya...!
Kita diciptakan dengan keunikan masing-masing dan diperlengkapi untuk menjadi diri kita sendiri...
Kehidupan mungkin membuat cermin kasih itu retak hingga tak mampu menangkap dan memancarkan cahaya-cahaya kasih-Nya…
Namun Allah sanggup mengubahnya menjadi baru, sehingga dunia dapat melihat-Nya melalui kita…!”


FINDING NEMO

FINDING NEMO

Foto ini tidak sengaja kutemukan, entah dari mana asalnya bisa nyasar ke laptopku. Dugaanku dibawa sama roh nemo (nenek moyang) sang penjaga mata air di Rante Deata. Setelah melalui proses analisa yang panjang di beberapa laboratorium, kuputuskan bahwa inilah foto yang mewakili karakter manusia purba dalam diriku dengan diperkuat fakta-fakta di bawah ini:

1.         Pas liad wajahku di cermin, hampir yakin ma teorinya Charles Darwin (The Origin of Species) kalo manusia itu adalah evolusi dari makhluk “sejenis” kera….

2.       Ada yang bilang kalo Nenekku mirip Sun Go Kong. Kalo Nenekku lahir dari Gandang Batu, Sun Go Kong lahir dari Batu. Bedanya Nenekku mungkin pernah make obat perontok bulu permanen saja……

Itu kata orang. Tapi menurutku, Nenekku justru mirip TUHAN Yesus, kalo TUHAN Yesus lahir di “Gandang Domba”, Nenekku lahir di “Gandang Batu”………

Honour Your Anchestor, They Drank it To
Kalimat ini menunjuk pada “Tuak” (White Label dalam dahasa Johny Walker) minuman beralkohol khas Toraja dari sadapan pohon enau. Bisaanya diminum dengan menggunakan potongan ruas bambu yang disebut “suke”. Boleh jadi bahasa ini ikut dijarah Jepang semasa Perang Dunia. Buktinya sederet  pemain sepakbola Jepang bernama suke; mulai dari Daisuke Sakata, Keisuke Honda, hingga Shunsuke Nakamura, yang dianggap paling sukses. Kata ini juga digunakan sebagai nama salah satu karakter dalam manga Naruto, Sasuke. 

Manggiru’ Tuak (manggiru’=minum) sudah membudaya dalam kehidupan masyarakat Toraja. Buktinya Lovely December, event pariwisata tahunan pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengangkatnya sebagai salah satu “cultural event”.  Jadi mangiru’ tuak juga bagian dari menghargai budaya serta menjalankan program pemerintah sebagai warga negara yang baik. Tulisan bahasa Inggris itu menandakan kalo pariwisata Toraja sudah “go international”….

Sampai hari ini aku pun belum belum tahu ini budaya negatif atau positif. Setahuku, sama seperti rokok, ALKOHOL juga ‘dapat’ menyebabkan kehamilan bahkan sampe tamblek (tambuk lekkang=perut besar) stadium 5 ke’ foto nemo di fotoku. Itu kalo alkohol ‘dapat’  kalo alkohol ‘beli’  cuma bisa bikin liver stadium 4. Alkohol juga punya sifat paradoks, bisa jadi obat dan bisa jadi racun, bisa menimbulkan semua masalah dan bisa menyelesaikan semua masalah….

Sabtu, 07 Mei 2011

PITER PAN TROJO, SEBUAH PRODUK GAGAL

Pither pan Trojo adalah singkatan dari Pithecanthropus PaleoTorajanicus, nama yang kuberikan pada diriku sendiri saat mulai berkenalan dengan jejaring sosial bernama Facebook yang kemudian ku impor secara illegal tanpa bea masuk ke blog ini…

Dari nama pasti sudah bisa di tebak kalo aku adalah blasteran Belanda-Jawa-Toraja. Yah, aku adalah kelinci percobaan  dari sebuah mega proyek kawin silang antara Monyet Belanda dan Badak Jawa untuk menghasilkan Tedong Bonga khas Toraja. Namun ternyata hasilnya adalah sebuah produk gagal penuh keabnormalan,
DIRIKU.......!!!

Awal kisah dimulai dari TKP (Tempat Kelahiran Pither)
Dari cerita Nenekku dan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, dahulu telah diadakan basse (sumpah) antara nenek moyang suku Toraja dan suku lain di luar Toraja bahwa Tedong Bonga hanya akan lahir di Toraja. Konsekuensinya, Tedong Bulan (kerbau dengan kulit sepenuhnya putih menyerupai bulan) juga tidak akan bisa bertahan hidup bila lahir di Toraja, Tedong Bulan akan lahir dalam keadaan buta (bulan buta) dan kemudian meninggal. Cerita ini memang terbukti dalam dunia pertedongan di Toraja

Sebagaimana layaknya Tedong Bonga, aku akan dilahirkan di Toraja. Namun, dalam perjalanan dari Jawa ke Toraja hal yang tidak diinginkan terjadi. Radiasi bom nuklir yang dijatuhkan Sekutu di Nagasaki dan Hiroshima ternyata terasa hingga Indonesia. Pertumbuhanku menjadi lebih cepat dan mau tidak mau aku yang seharusnya lahir di Toraja harus menerima kenyataan pahit ini. Numpang lahir premature di Makassar, kota yang terkenal dengan banci Lapangan Karebosi-nya.

Untuk menutupi semua kegagalan proyek ini Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban langsung mengirimku ke Toraja, ke sebuah daerah bernama Buntu. Agar penyamaran tak terbongkar satu tahun kemudian aku dipindahkan lagi ke desa lain. Desa Buntu Limbong, tepatnya di sebuah kampung bernama Rante Deata. Nama yang tidak jauh berbeda mungkin karena masih berada dalam kecamatan yang sama, Gandang Batu Sillanan. Tempat inilah yang kemudian menjadi kawah candradimuka semua keabnormalanku….

Selain memang sebuah produk gagal, percaya gak percaya nama tempat-tempat yang pernah kusinggahi juga berpengaruh terhadap perilaku menyimpang yang mengakar kuat dalam ragaku…

Lapangan Karebosi
Karena lahir di rumah sakit yang dekat dengan Lapangan Karebosi, diduga keras (strong suspicion; tau istilah ini karena terobsesi jadi detektif bayaran penyelidik kasus maling kutang) sifat banci yang merajuk dalam sukmaku terjadi karena aku adalah titisan seorang banci yang dulu sering nongkrong di lapangan ini. Beliau meninggal akibat komplikasi AIDS, dan disfungsi ereksi akibat tendangan pisang Miro Baldo Bento, pemain PSM (Persatuan Sepakbola Makassar) yang memang sering latihan di lapangan ini. Singkatnya   karena overdosis pisang…

Buntu
Tinggal di sini waktu masih orok, jadi belum ingat apa-apa. Hanya bisa teringat semua cerita orang tentang riwayatku. Kata mereka diriku slalu di manja, kata mereka diriku slalu di timang........  Intinya belum ada yang bisa terekam dalam memori otakku yang kapasitasnya memang di bawah rata-rata kapasitas otak normal. Jika berat rata-rata otak normal adalah 1.375 gram, berat otakku kurang dari 1.000 gram. Berdasarkan penelitian, harusnya aku terlahir dengan rambut kribo, namun rambut tersebut malah tumbuh kedalam tengkorak dan itulah yang disebut otak dalam anatomy tubuhku. Bagaimanapun aku harus tetap BERPIKIR POSITIF, ini ku anggap sebuah kelebihan karena risiko terkena kanker otak otomatis menjadi lebih kecil.

Cerita tentang masa kecilku hanya kudengar dari orang-orang kalo di tempat inilah aku mulai menderita penyakit yang menggerogoti jiwa dan ragaku hingga umur 4 tahun. Penduduk lokal (sok pendatang, padahal dalam darahku mengalir 100% darah Toraja, ini karena terinfeksi bahasa Jejak Petualang di Trans 7) menyebutnya sittaran. Penyakit yang kalo kumat  membuat tubuhku kejang-kejang, demam tinggi hingga 120  (gak segitu juga kaleee; versi bencong Karebosi) dan mata hitam sampe gak kelihatan. Di zaman modern sekarang ini, mungkin sejenis ayan. Betapa menyedihkannya masa kanak-kanakku…….!!!

Gara-gara pernah tinggal di Buntu inilah yang bikin otakku jadi ikut-ikutan “buntukarena kegagalan proses adaptasi  dan aklimatisasi.

Rante Deata
Secara etimologis kata Rante Deata berasal dari dua bahasa Toraja yaitu Rante yang berarti pelataran, lapangan, halaman yang rata, rantai, atau kalung dan Deata yang berarti roh, atau dewa. Jadi Rante Deata berarti Pelataran Dewa (dengan ekspresi seperti guru Sejarah-ku di SMP dulu).  Sebenarnya, ini hanya nama sebuah tempat yang sangat kecil yang rata di kaki sebuah bukit bernama Potok Deata (potok = puncak). Penamaan daerah seperti ini mungkin dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat sebelumnya yang menganut animisme yang disebut Aluk Todolo. Tidak jauh dari tempat ini ada mata air yang tidak pernah kering. Dahulu merupakan tempat pemujaan leluhur, tempat dimana penganut aluk todolo membawa sesaji. Beberapa orang bilang kalo mereka pernah melihat lendong bonga (lendong=belut, bonga=belang) di sekitar mata air tersebut (kok jadi ke’ documenter yah…?).

Aku tinggal di daerah ini saat manusia belum mengenal peradaban. Jalan masih tanah yang becek, licin dan gak ada ojek. Belum ada listrik pasokan PLN. Rumah masih pake Listrik Tenaga Surya yang hanya mampu menyalakan 2 bola lampu 15 watt dan sebuah TV hitam putih yang cuma bisa nangkap siaran TVRI. Jadi masih perlu penerangan tambahan dengan pelita alias lampu tempel  yang asap hitamnya menghasilkan upil sebesar buah jambu monyet (macaca nigra jambuensis, ngasal) yang tumbuh di belakang rumah. Alhasil harus ngupil pake garpu ato pekali bandoli’ (linggis) tiap pagi. Belum lagi asap hitam pelita yang menghitamkan dan meracuni otakku sangat mendukung untuk membuatku tumbuh menjadi manusia buntu yang abnormal. Asap hitam ini juga berpengaruh terhadap kulit yang pas lahir putih dan mulus ke’ putra KERA…. ton…

Terbiasa hidup dalam gelap seperti manusia prasejarah pada umumnya juga membuatku mengidap inferiority complex sampe gak berani pasang foto di blog dan memilih memasang foto nenek moyangku yang seorang pelaut (hasil penelitian membuktikan kalo orang-orang dengan IQ tinggi memang cenderung punya rasa rendah diri yang tinggi, hehehe……).

Pernah tinggal di dua tempat dengan nama yang sama (Buntu) juga membuatku mengidap kepribadian ganda. Seorang manusia purba, dan seorang manusia abnormal bersemayam dalam jiwaku.