Senin, 09 Mei 2011

DON’T JUDGE A BOOK BY ITS COVER …!

Kemarin malam habis dari toko buku (strategi menghabiskan malam Minggu sebagai jomblo sejati), rencananya mau beli buku yang sudah lama saya cari, judulnya “Mencintai Hingga Terluka”  tapi seperti di beberapa toko buku sebelumnya, bukunya habis.......!!! Tak ingi pulang dengan tangan hampa (bahasanya dong, hahaha.....) terpaksa ngambil buku lain yang judulnya menurutku juga menarik. Pas di kasir, ternyata harganya cuma Rp. 5.000 padahal tebalnya mungkin sekitar 150-an halaman. Kasirnya masukin barcode-nya berulang-ulang, gak percaya kalo harganya segitu. Soalnya memang gak ada label harga di bungkus buku tersebut.  Kemudian kasirnya bilang “Adek, tidak tau ka’ harganya ini, cari mi buku lain saja …!”. Sebenarnya mau bilang, “Itu harganya 5.000...?”. Tapi gak yakin juga kalo tulisan setebal itu cuma dihargai 5.000 rupiah walopun berdasarkan data di cover-nya nama penulisnya gak (seandainya taw penulisnya bakalan baca tulisan ini harusnya pake kata “belum”, sapa taw dapat bukunya GRATISSSS…..! ) terkenal dan masih orang sini juga alias produk lokal. Jadi kuruungan niat suciku untuk mengatakannya dan mengambil sebuah buku renungan meskipun sebenarnya gak pernah sate, hanya buat jaim saja, hehehe......


Don’t judge a book by its cover (jangan menghakimi buku karena membawa koper), kata-kata ini dipopulerkan (lagu kaleeee…?) oleh penulis terbesar sepanjang sejarah yang hingga hari ini masih menjadi kontroversi tentang siapa dia sebenarnya. Beberapa orang bilang kalo nama aslinya Edward de Vere, anggota keluarga Kerajaan Inggris terduga homo dan berselingkuh, sehingga untuk membuat kerajaan tidak mendapat malu dan tetap menyalurkan bakat menulis yang kebanyakan terinspirasi dari kisah hidupnya, ia memilih menutupi jati dirinya dan menggunakan nama pena “William Shakespeare”….

Sepertinya kata-kata ini hanya berlaku untuk “sang terduga homo”  buktinya di toko buku, semua buku dibungkus pake plastik. Mau tidak mau, kita harus menilai buku tersebut dari cover-nya.  

Terakhir kali ke Gramedia, ke’nya bulan lalu, saya sempat merobek bungkus plastik sebuah buku juga. Penasaran saja ma penulisnya, Norman Edwin, bukan karena namanya mirip Briptu Norman Cayya-cayya, sang artis dadakan, tapi karena punya beberapakesamaan ma saya; pengagum keindahan alam dan yang paling penting, gak merokok tapi SUKA BICARA KOTOR, hahaha……….

Jadi mikir dan berharap......
Seandainya saja semua penulis homo atau lesbi.......
Seandainya semua penulis hanya menulis untuk kepentingan seni atau ilmu pengetahuan, bukan tujuan komersil apalagi popularitas...
Pasti gak semua buku dibungkus pake plastik, jadi saya gak perlu pake acara rober-robek bungkus buku di Gramedia karena gak maw jadi arwah penasaran. Tulisan-tulisan juga mudah didapat, dibaca, dinikmati bahkan diplagiat sama semua orang….

BTW, kawan2 ada yang punya atw pernah baca buku “Mencintai Hingga Terluka” tidak…....??? Atau, adakah diantara kalian yang homo atau lesbi...? maukah kalian menjadi pasangan homo.... eh, hampir keceplosan,  maksudku maukah kalian menjadi penulis.......???

(Mcz, 090511)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar