Dari nama pasti sudah bisa di tebak kalo aku adalah blasteran Belanda-Jawa-Toraja. Yah, aku adalah kelinci percobaan dari sebuah mega proyek kawin silang antara Monyet Belanda dan Badak Jawa untuk menghasilkan Tedong Bonga khas Toraja. Namun ternyata hasilnya adalah sebuah produk gagal penuh keabnormalan,
DIRIKU.......!!!
Awal kisah dimulai dari TKP (Tempat Kelahiran Pither)
Dari cerita Nenekku dan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita, dahulu telah diadakan basse (sumpah) antara nenek moyang suku Toraja dan suku lain di luar Toraja bahwa Tedong Bonga hanya akan lahir di Toraja. Konsekuensinya, Tedong Bulan (kerbau dengan kulit sepenuhnya putih menyerupai bulan) juga tidak akan bisa bertahan hidup bila lahir di Toraja, Tedong Bulan akan lahir dalam keadaan buta (bulan buta) dan kemudian meninggal. Cerita ini memang terbukti dalam dunia pertedongan di Toraja
Sebagaimana layaknya Tedong Bonga, aku akan dilahirkan di Toraja. Namun, dalam perjalanan dari Jawa ke Toraja hal yang tidak diinginkan terjadi. Radiasi bom nuklir yang dijatuhkan Sekutu di Nagasaki dan Hiroshima ternyata terasa hingga Indonesia. Pertumbuhanku menjadi lebih cepat dan mau tidak mau aku yang seharusnya lahir di Toraja harus menerima kenyataan pahit ini. Numpang lahir premature di Makassar, kota yang terkenal dengan banci Lapangan Karebosi-nya.
Untuk menutupi semua kegagalan proyek ini Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban langsung mengirimku ke Toraja, ke sebuah daerah bernama Buntu. Agar penyamaran tak terbongkar satu tahun kemudian aku dipindahkan lagi ke desa lain. Desa Buntu Limbong, tepatnya di sebuah kampung bernama Rante Deata. Nama yang tidak jauh berbeda mungkin karena masih berada dalam kecamatan yang sama, Gandang Batu Sillanan. Tempat inilah yang kemudian menjadi kawah candradimuka semua keabnormalanku….
Selain memang sebuah produk gagal, percaya gak percaya nama tempat-tempat yang pernah kusinggahi juga berpengaruh terhadap perilaku menyimpang yang mengakar kuat dalam ragaku…
Lapangan Karebosi
Karena lahir di rumah sakit yang dekat dengan Lapangan Karebosi, diduga keras (strong suspicion; tau istilah ini karena terobsesi jadi detektif bayaran penyelidik kasus maling kutang) sifat banci yang merajuk dalam sukmaku terjadi karena aku adalah titisan seorang banci yang dulu sering nongkrong di lapangan ini. Beliau meninggal akibat komplikasi AIDS, dan disfungsi ereksi akibat tendangan pisang Miro Baldo Bento, pemain PSM (Persatuan Sepakbola Makassar) yang memang sering latihan di lapangan ini. Singkatnya karena overdosis pisang…
Buntu
Tinggal di sini waktu masih orok, jadi belum ingat apa-apa. Hanya bisa teringat semua cerita orang tentang riwayatku. Kata mereka diriku slalu di manja, kata mereka diriku slalu di timang........ Intinya belum ada yang bisa terekam dalam memori otakku yang kapasitasnya memang di bawah rata-rata kapasitas otak normal. Jika berat rata-rata otak normal adalah 1.375 gram, berat otakku kurang dari 1.000 gram. Berdasarkan penelitian, harusnya aku terlahir dengan rambut kribo, namun rambut tersebut malah tumbuh kedalam tengkorak dan itulah yang disebut otak dalam anatomy tubuhku. Bagaimanapun aku harus tetap BERPIKIR POSITIF, ini ku anggap sebuah kelebihan karena risiko terkena kanker otak otomatis menjadi lebih kecil.
Cerita tentang masa kecilku hanya kudengar dari orang-orang kalo di tempat inilah aku mulai menderita penyakit yang menggerogoti jiwa dan ragaku hingga umur 4 tahun. Penduduk lokal (sok pendatang, padahal dalam darahku mengalir 100% darah Toraja, ini karena terinfeksi bahasa Jejak Petualang di Trans 7) menyebutnya sittaran. Penyakit yang kalo kumat membuat tubuhku kejang-kejang, demam tinggi hingga 120 (gak segitu juga kaleee; versi bencong Karebosi) dan mata hitam sampe gak kelihatan. Di zaman modern sekarang ini, mungkin sejenis ayan. Betapa menyedihkannya masa kanak-kanakku…….!!!
Gara-gara pernah tinggal di Buntu inilah yang bikin otakku jadi ikut-ikutan “buntu” karena kegagalan proses adaptasi dan aklimatisasi.
Rante Deata
Secara etimologis kata Rante Deata berasal dari dua bahasa Toraja yaitu Rante yang berarti pelataran, lapangan, halaman yang rata, rantai, atau kalung dan Deata yang berarti roh, atau dewa. Jadi Rante Deata berarti Pelataran Dewa (dengan ekspresi seperti guru Sejarah-ku di SMP dulu). Sebenarnya, ini hanya nama sebuah tempat yang sangat kecil yang rata di kaki sebuah bukit bernama Potok Deata (potok = puncak). Penamaan daerah seperti ini mungkin dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat sebelumnya yang menganut animisme yang disebut Aluk Todolo. Tidak jauh dari tempat ini ada mata air yang tidak pernah kering. Dahulu merupakan tempat pemujaan leluhur, tempat dimana penganut aluk todolo membawa sesaji. Beberapa orang bilang kalo mereka pernah melihat lendong bonga (lendong=belut, bonga=belang) di sekitar mata air tersebut (kok jadi ke’ documenter yah…?).
Aku tinggal di daerah ini saat manusia belum mengenal peradaban. Jalan masih tanah yang becek, licin dan gak ada ojek. Belum ada listrik pasokan PLN. Rumah masih pake Listrik Tenaga Surya yang hanya mampu menyalakan 2 bola lampu 15 watt dan sebuah TV hitam putih yang cuma bisa nangkap siaran TVRI. Jadi masih perlu penerangan tambahan dengan pelita alias lampu tempel yang asap hitamnya menghasilkan upil sebesar buah jambu monyet (macaca nigra jambuensis, ngasal) yang tumbuh di belakang rumah. Alhasil harus ngupil pake garpu ato pekali bandoli’ (linggis) tiap pagi. Belum lagi asap hitam pelita yang menghitamkan dan meracuni otakku sangat mendukung untuk membuatku tumbuh menjadi manusia buntu yang abnormal. Asap hitam ini juga berpengaruh terhadap kulit yang pas lahir putih dan mulus ke’ putra KERA…. ton…
Terbiasa hidup dalam gelap seperti manusia prasejarah pada umumnya juga membuatku mengidap inferiority complex sampe gak berani pasang foto di blog dan memilih memasang foto nenek moyangku yang seorang pelaut (hasil penelitian membuktikan kalo orang-orang dengan IQ tinggi memang cenderung punya rasa rendah diri yang tinggi, hehehe……).
Pernah tinggal di dua tempat dengan nama yang sama (Buntu) juga membuatku mengidap kepribadian ganda. Seorang manusia purba, dan seorang manusia abnormal bersemayam dalam jiwaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar